Popular Post
Loading...
Jumat, 05 April 2013

Aku Terbang Suatu Hari - Mimpi Fiksi

00.00

Terasa aneh juga seram dunia ini. Setiap kali aku berjalan, seperti ada energi cakra di telapak kaki. Aku sadar ini bukan dunia nyata. Tapi kusadari aku suka berada disini. Membuatku terlena menikmati suasan baru yang eksotis.

Sawah menghampar tanaman lain. Padi hanya beberapa. Selebihnya adalah pohon-pohon besar menjulang tinggi tumbuh seperti batang padi. Mengayun-ngayun kesana kemari. Aku melihat ada sebuah hunian di salah satu pohon di atasnya.


"Don mereka ada di sana. Ayo bantu kami mengejarnya." Teriak mereka serupa manusia. mereka melayang berlalu-lalang tepat berada di atasku, berteriak seolah mengajakku sebagai teman.

Tiba-tiba tak lama, aku melihat segerombolan binatang yang berterbangan dari hunian tadi. Mereka melayang seperti ingin melawan. Membawa peralatan seperti alat perang. Teman-temanku kaget dan sepertinya mulai menunjuk-nujuk ingin melawan menghadang binatang-binatang itu.

Aku mencari cara untuk melihat lebih dekat. Aku menoleh ke kiri, kulihat ada tangga dan papan yang terhubung ke daratan lebih tinggi. Melihat aksi pertempuran teman-teman dengan sangat berani. Aku menjadi malu seketika sadar aku hanya meratapi.

***

Seekor binatang terjatuh tepat di depanku. Ia berwarna biru . Dengan wajah yang mirip binatang kecoa. Sirip-sirip ekornya hilang seperti tercabik sesuatu. Aku mencoba lebih mendekat, kulihat ia berlumuran darah di wajahnya. Hitam, warna darahnya yang mengalir dari mulutnya. Aku mencoba berbicara. "Siapa kau?".

"Argghh. Apa maumu. Akan kubunuh kau".  Ia menjawab dan menatapku seolah mengancam.

Aku melihat kepalan tangannya ke arahku. Tiba-tiba aku mengeluarkan pedang dari punggungku dan mencabik-cabik lengan binatang itu.

Aku tertegun sesaat dan bertanya. "Pedang apa ini, darimana datangnya?", "Sejak kapan ia ada di saku". pikirku.

"Doooon". Teriak seseorang dari udara, Sebut saja namanya Badar. Ia adalah tokoh dalam cerita yang sering kutulis. "Sini Don, mereka telah kalah, saatnya kita masuk ke Singgasana putri". Badar antusias dengan ceceran darah di lengan kanannya.

"Tunggu sebentar". Aku menjawabnya seraya memasukkan pedangku kedalam saku. Saat itu aku mencoba fokus menuju Badar. Aku melihat ke arahnya. Energi dari telapak kakiku mulai bekerja.

Tiba-tiba..... Aku melayang secepat burung elang. Menuju Singgasana Putri.

-The End-

Menurut Tafsir mimipi, Mimpi terbang dengan tanpa menggunakan alat, maka akan memperoleh ilmu yang sangat bermanfaat. Bagiku ilmu itu adalah "Tulsan". Ya, seperti ceritaku ini dapat kusampaikan dalam tulisan.

Tanpa tulisan, maka Dunia ini tanpa ilmu. Alam yan terang menderang juga diciptakan oleh tulisan-tulisan sahabat Rasulullah melalui wahyu-Nya. Maka berbahagialah bila mimpi seperti ini menghampiri.

- Di atas Kasur, 5 April 2013-



0 komentar:

Posting Komentar

 
Toggle Footer