Popular Post
Loading...
Minggu, 28 April 2013

Satu Wanita Satu Kota - Langsa Part I

14.36


Yan, nanti di setiap kota yang kita singgah, kita harus dapatkan satu pasangan masing-masing, itulah tujuan road trip kita sebenarnya”. Sony mengingatkan.

“Hehe iya, sesuai rencana ya Son?”. Tanya Ryan.

Iya, Satu Wanita Satu Kota atau disingkat SWSK. Betul kan seperti itu?”. Sahut Sony sekaligus bertanya.

Betul Son. SWSK”. Ryan melihat ke atas, ia pun berdo’a walau itu sebenarnya bukan permintaan terpuji untuk dipanjatkan sebagai do’a.

Rencana itu benar-benar telah dipersiapkan oleh mereka. Dua pria dalam mobil ini telah sepakat untuk mendapatkan pasangan di setiap kota yang disinggah sembari menuju kota tujuan, Banda Aceh.

Rencana itu ada waktu dan tempatnya. Tempat yang menjadi pemberhentian mereka adalah tempat bagi para penikmat wisata atau tempat tongkrongan remaja kota. Tempat yang telah dicatat oleh Sony dalam buku catatan perjalanannya.

***
Di Kota Langsa.

Sony dan Ryan terperangah melihat sekerumunan pasangan, masing-masing berjalan dengan sepeda motor maupun mobil di sepanjang jalan. Waktu yang sudah hampir maghrib tidak menghentikan mereka -warga kota yang berpasang-pasangan- untuk beranjak meninggalkan hiruk pikuk lalu lintas jalanan kota, beginilah kondisi kota ini. Sony dan Ryan sepintas saling melihat dan mengangguk sambil tersenyum lebar.

“Kalau seperti ini Yan. Aku yakin misi kita SWSK berhasil”. Sony kegirangan.

“Haha, Sebentar lagi mau maghrib Son”. Walau tertawa, Ryan mengingatkan temannya akan waktu untuk mengerjakan ibadah sholat.

“Kita berhenti dimana Son?” Tanya Ryan.

“Kau tenang saja, Berdasarkan daftar tempat tongkrongan terkenal disini, ada warung nanti, sekitar beberapa meter lagi, di depannya ada lapangan apalah itu namanya. Terang Sony seraya melingak-linguk mencari lokasi warung.

Macam mana sajalah tempat itu, yang penting ada musholanya Son”. Ryan menasehati Sony dan sekilas melihat sederetan mobil yang parkir di bahu jalan di depannya ada lapangan. “Son, coba kau lihat warung itu”. Seru Ryan sambil menunjuk-nunjuk.

Kayaknya betul kau Yan, lapangan tepat ada di depannya”.
Sony mencoba mencari tempat parkir mobil yang kosong. Dengan berani ia meloncatkan mobil ramping itu masuk ke area perkarangan dalam suasana remang. Awalnya Sony mengira di area itu terdapat lahan parkir. Padahal tidak ada lahan parkir di sana, yang tampak olehnya hanyalah jajaran warung makan.

Sony terkejut, sebab ia telah membuat kesalahan, menjadikan mobil mereka sebagai pusat perhatian. Namun, untung-untung bila itu bisa menjadi strategi dalam impresi pertama, dalam misi mereka SWSK. Mereka sadar bermodalkan mobil dengan velg serta knalpot anehnya itu bisa memancarkan aura sinar mereka nanti.

Saat mereka turun dari mobil dan berjalan menelusuri warung, khayalan mereka berdua sama-sama beraksi. Dalam imajinasi mereka berdua, sejumlah mata pelanggan warung seolah menyatakan “aku terpesona”. Oleh sebab tetegun melihat sosok pemilik mobil baleno berwarna biru muda. Dan sepertinya mereka –pelanggan warung- beranggapan, kedua sosok pemberani seperti Sony dan Ryan, patut diacungkan jempol, karena berani memasuki areal warung, padahal sudah melakukan kesalahan. Sony dan Ryan tersenyum bangga, keduanya sama-sama melihat sekilas tayangan imajinasi belaka.

***

Di sisi dalam warung. Pencahayaan lampu berwarna kuning terang mengecap nuansa glamour dari tempat eksotis yang sederhana.

Sony dan Ryan dengan lahap menyantap makanan yang baru saja diantar pelayan. Rasa lapar yang mereka bendung di perjalanan sudah hilang. Hanya dengan dua piring nasi dan satu piring sate besar yang telah kosong, menunjukkan kepuasan mereka terhadap pelayanan warung di kota ini.

Tiba-tiba datang seorang pelayan mendekati meja. Ryan melihat secercah kertas di genggaman pelayan itu sebelum si pelayan menjelaskan maksud kedatangannya.

Bang me’ah beh, nyoe na masalah bacut bang”. Pelayan itu meminta maaf karena telah menggangggu pelanggannya, tengah santai duduk kekenyangan.

Apalah kau ini?”. Tanya Sony kepada pelayan. Pelayan itu bergetar melihat wajah pelanggannya sedikit marah.

“Kami bukan orang Aceh bang”. Ryan mencoba menyadarkan pelayan itu yang menggunakan bahasa Aceh.

“Oh maaf bang”. Si pelayan tersipu malu sambil menggaruk-garuk kepala.

“Anu bang, ini ada kertas, tadi diberikan kepada saya dari sana mas”. Sang pelayan menunjukan dengan telapak tangannya mengarah ke satu meja, letaknya agak jauh. Terlihat dua perempuan melambaikan tangan serta menoreh senyum lebar.

“Son”. Tegur Ryan.

“Iya Yan, kenapa?”. Tanya Sony seadanya. Ia hirau memandangi sebuah penampakan, yang serupa belum pernah terlintas semasa hidupnya.


-------- Part II Klik
Enhanced by Zemanta

2 komentar:

 
Toggle Footer